Taktik Arsenal versi terbaru mendapat ujian keras ketika mereka ditumbangkan Brighton 3-0 sebelum jeda internasional. Mikel Arteta tidak menyangkal keunggulan lawannya. “Brighton tampil sangat bagus,” ujarnya usai laga itu. Kekalahan tersebut terasa mengganggu karena sebelumnya Arsenal menyapu bersih seluruh pertandingan musim ini, sehingga muncul pertanyaan besar soal arah permainan mereka selanjutnya.
Arteta memang bukan pelatih yang betah berdiam diri. Sejak mengambil alih kursi kepelatihan pada 2019, ia sudah berkali-kali membongkar ulang cara bermain Arsenal, dan kini ia kembali bereinvensi. Kekalahan dari Brighton, buah dari rencana matang Fabian Hurzeler, menjadi ujian pertama bagi versi terbaru tim ini sebelum mereka menjamu Leeds pada Sabtu (12:30 waktu setempat).
Apa yang Berubah dalam Taktik Arsenal Musim Ini
Saat menguasai bola, Arsenal musim ini memakai formasi 3-1-6. Pola itu terbentuk karena Declan Rice turun ke belakang — bukan naik ke depan seperti pada paruh awal musim lalu — sehingga tercipta barisan bek tiga bersama Ezri Konsa dan Gabriel Magalhaes. Di depan mereka, Myles Lewis-Skelly berdiri sebagai satu-satunya pivot yang menjembatani lini belakang dan lini depan.
Menyebut sisanya sebagai “enam pemain depan” terlalu menyederhanakan keadaan, karena sejumlah pemain punya tugas yang sangat spesifik. Riccardo Calafiori, Ben White, dan Martin Odegaard bergantian turun ke belakang, sesekali menjadi pemain kelima di dasar permainan Arsenal. Kehadiran dinamis ini membentuk basis “3-2” atau “4-1” yang menuntut kewaspadaan serta reaksi cepat dari lawan untuk mengawalnya, dan hal itu tidak selalu bisa dilakukan.
Pergerakan turun ke belakang itu membuat Arsenal unggul jumlah pemain, mampu mengelilingi lawan, dan mendorong bola naik ke atas lapangan. Dengan William Saliba absen, Konsa tampil sebagai bek tengah yang cakap mengolah bola. Namun Rice punya kualitas umpan sekaligus kemampuan membawa bola seperti gelandang kelas dunia, sehingga menempatkannya di sana memaksimalkan kelebihannya dan mengurangi waktu yang ia habiskan di ruang sempit dengan punggung menghadap gawang.
Jejak Evolusi: Bagaimana Arteta Membangun Arsenal
Perubahan ini bukan hal baru. Saat datang pada 2019 ke tim yang butuh energi baru, Arteta memenangi Piala FA di musim pertamanya dengan gaya bertahan dan tak ragu memakai lima bek. Seiring waktu, Arsenal beralih ke sepak bola menyerang yang mengalir bebas — paling kentara pada 2022 — sebelum membentuk tim yang memperkecil variasi permainan, memaksimalkan kontrol, dan sulit dilawan secara fisik.
Setelah akhirnya mengangkat trofi Premier League, Arteta kembali merombak timnya. Merasa lebih bebas setelah juara, ia mulai mengambil lebih banyak risiko dalam urusan personel maupun taktik. Namun selera risiko yang lebih besar memang berbanding lurus dengan potensi kemenangan yang lebih besar — sekaligus kekalahan yang lebih berat.
Musim lalu, jantung Arsenal dihuni Martin Zubimendi di posisi terdalam dengan Rice berperan lebih sebagai box-to-box di sisi kirinya. Arsenal sempat kehilangan momentum menjelang akhir musim, tetapi penggunaan Myles Lewis-Skelly secara mengejutkan di posisi gelandang bertahan kembali menyegarkan tim dan membantu mereka melewati garis finis. Sejak itu Arteta terus mempercayakan peran kunci tersebut kepada pemain berusia 20 tahun itu.
Mengapa Lewis-Skelly Begitu Penting bagi Taktik Arsenal
Lewis-Skelly menguasai posisi penghubung itu karena beberapa alasan: ketenangannya saat ditekan, kekuatan menahan bola, kemampuan melewati lawan satu lawan satu, serta keberaniannya mengambil risiko. Ia tidak ragu menggiring bola melewati pemain lawan atau melepas umpan langsung kepada para penyerang. Kombinasi itu membuatnya nyaris tak tergantikan di peran tersebut.
Efektivitasnya di posisi itu juga menarik perhatian pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel. Pada jeda internasional kali ini, Tuchel meniru pemakaian Lewis-Skelly ala Arteta. Di tim Inggris, Elliot Anderson yang mengisi “peran Declan Rice” dalam barisan bek tiga.
Mengingat beratnya tuntutan posisi tersebut, salah satu penyebab Arsenal kesulitan melawan Brighton adalah karena Bruno Guimaraes yang mengisi posisi gelandang bertahan itu, bukan Lewis-Skelly. Hurzeler telah melatih skuad Brighton untuk bermain dengan intensitas tinggi, baik saat menguasai maupun kehilangan bola. Untuk bisa mengelilingi pressing mereka dibutuhkan teknik mumpuni, posisi yang tepat, timing pergerakan yang benar, dan pemahaman tentang keberadaan rekan setim. Guimaraes akan segera menyesuaikan diri seiring waktu, tetapi dimainkan di sana melawan pressing man-to-man Brighton yang efektif memang tantangan berat.
Bisakah Tim Lain Meniru Resep Brighton?
Tekanan Brighton membuat Arsenal ragu menguasai bola dan memaksa mereka mengambil keputusan yang biasanya tidak diambil. Arteta pun mengakui hal itu. “Anda bisa lihat dari throw-in pertama, sudah sangat jelas. Kami membuat diri kami sendiri dalam masalah satu, dua, tiga kali,” katanya. “Kami harus keluar jauh lebih cepat dari itu, dan itu salah satu pelajaran terbesar dari pertandingan hari ini.”
Setelah umpan-umpan mereka melenceng, Arsenal yang dikenal kuat dalam duel justru kalah dari Brighton yang mengerumuni bola. Ketika Brighton terdesak ke belakang, Arsenal mungkin mengira pertandingan akan berjalan seperti biasa: mereka mendominasi bola di sepertiga akhir lawan menghadapi pertahanan rapat. Namun Brighton punya rencana lain.
Dari bentuk bertahan mereka, Brighton memilih momen untuk kembali menekan satu lawan satu secara agresif. Solusi itu efektif dan menekan Arteta sepanjang pertandingan, sebab Arsenal nyaris tidak pernah punya pemain yang bebas tanpa pengawalan. Hurzeler memimpin kemenangan dominan itu dengan berani menolak pendekatan pragmatis, sesuatu yang jarang dialami Arsenal. Brighton menang karena menciptakan pertandingan yang asing dan tak terduga, sehingga Arsenal tidak bisa membangun kondisi yang mereka sukai untuk mengalirkan bola. Jika ingin menantang Arsenal, memang inilah caranya.
Meski begitu, Arteta akan berusaha mencari solusi dan mengubah tantangan asing menjadi lebih akrab — seperti yang ia lakukan terhadap Manchester City musim lalu. Pada final Carabao Cup musim tersebut, Arsenal dikejutkan perubahan pertahanan yang membawa City menang lewat formasi zonal 4-2-4 yang membiarkan bek Arsenal menguasai bola tetapi menutup akses ke tengah lapangan. Pelatih baru City, Enzo Maresca, menyadari efektivitasnya dan memakai ulang pola itu melawan Arsenal di Community Shield musim ini. Kali ini tak berhasil: Arsenal punya banyak solusi karena sudah punya waktu bersiap, dengan memanfaatkan pemain teknis dan serbaguna dalam membangun serangan.
Risiko yang Sengaja Diambil Arsenal
Respons Arteta atas kekalahan dari Brighton, dimulai saat menjamu Leeds, akan menjadi babak baru dalam evolusi timnya — sebuah proses yang sekaligus proaktif dan reaktif. Musim ini Arteta juga mendorong permainan yang lebih asimetris dan cair, terutama di sisi kanan, sebuah fenomena yang layak dibahas tersendiri.
Kai Havertz konsisten bergeser ke sisi kanan lapangan. White naik tinggi dari posisi bek kanan. Bukayo Saka kadang berada di sayap, kadang menyerang dari tengah. Rice dan Odegaard juga datang mendekat untuk meminta bola. Gaya baru yang dibangun dari kombinasi di ruang sempit, fluiditas, dan keunggulan jumlah pemain ini memberi Arsenal jawaban baru atas masalah lama berupa pertahanan rapat yang menumpuk di belakang.
Dengan menarik lawan ke satu sisi lapangan, Arsenal bisa menemukan pemain di tengah atau di sisi jauh dalam posisi bebas. Taktik ini juga sudah menghasilkan gol musim ini. Semua itu menunjukkan Arteta bersedia meninggalkan cara yang sebelumnya berhasil demi mengejar solusi baru, dengan harapan bisa berlari lebih cepat dari liga yang berusaha mempersempit jarak.
Reinvensi semacam itu memang membawa masalah di masa adaptasi, seperti terlihat saat Arsenal kesulitan melawan Brighton. Namun bagi tim yang ingin bertahan di puncak, tidak bereinvensi justru bisa menjadi risiko yang lebih besar.
Kekalahan dari Brighton memperlihatkan sisi rapuh dari versi terbaru taktik Arsenal, terutama ketika lawan berani menekan satu lawan satu dengan intensitas tinggi. Hilangnya Lewis-Skelly dari posisi pivot membuat sirkulasi bola Arsenal tidak berjalan semulus biasanya, dan Brighton memanfaatkan celah itu dengan disiplin. Meski demikian, ini lebih tepat disebut sebagai masalah adaptasi ketimbang kegagalan konsep.
Laga melawan Leeds menjadi kesempatan pertama bagi Arteta untuk menunjukkan bahwa pelajarannya sudah dipetik. Sejarah menunjukkan ia cukup sering berhasil mengubah kelemahan menjadi kekuatan, seperti yang terjadi setelah kekalahan dari Manchester City. Karena itu, menarik untuk menunggu babak berikutnya dari evolusi Arsenal: apakah mereka kembali ke pola yang familier, atau justru melangkah lebih jauh dengan versi yang lebih berani.
