Granit Xhaka, kapten Sunderland sekaligus kapten tim nasional Swiss, mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima denda bersyarat sebesar 150.000 franc Swiss atau setara £136.000. Denda tersebut berkaitan dengan sertifikat vaksinasi Covid-19 palsu yang ia peroleh pada 2022. Pengakuan itu ia sampaikan sendiri lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, yang ditulis dalam bahasa Jerman.
Kasus Granit Xhaka ini menarik perhatian bukan hanya karena nilai dendanya yang besar, tetapi juga karena posisinya sebagai salah satu pemain paling senior di sepak bola Swiss. Ia merupakan pemegang rekor caps terbanyak untuk negaranya, yakni 152 penampilan, dan kini dipercaya memimpin Sunderland. Bagi klubnya, kabar ini muncul di tengah padatnya jadwal kompetisi, sehingga wajar jika publik sepak bola ingin tahu seberapa besar pengaruhnya terhadap performa sang pemain di lapangan.
Rincian Vonis: Denda Ditangguhkan Dua Tahun
Dalam pernyataannya, Xhaka menjelaskan bahwa denda yang dijatuhkan kepadanya tidak langsung harus dibayar, melainkan ditangguhkan selama dua tahun. Syaratnya sederhana, yaitu ia tidak melakukan pelanggaran hukum lain dalam periode tersebut. Ia juga menyebut telah melunasi biaya perkara yang dibebankan oleh pengadilan.
Angka denda itu sendiri berasal dari putusan ringkas yang dijatuhkan pengadilan. Xhaka dihukum karena memperoleh sertifikasi palsu, dengan besaran 50 tarif harian yang masing-masing bernilai 3.000 franc Swiss atau sekitar £2.726 per harinya. Jika dikalikan, totalnya memang mencapai 150.000 franc Swiss, sesuai dengan jumlah yang ia sebutkan dalam unggahannya.
Pemain berusia 34 tahun itu menegaskan bahwa dirinya tidak berniat menghindari tanggung jawab. “Saya menerima keputusan ini dan bertanggung jawab atas tindakan saya. Terima kasih atas banyaknya pesan dukungan selama beberapa minggu terakhir. Pesan-pesan itu sangat berarti bagi saya,” tulisnya. Ia juga mengingatkan kembali pernyataannya beberapa waktu sebelumnya bahwa ia akan menanggung konsekuensi dari keputusannya sendiri.
Kronologi Kasus yang Berawal pada 2022
Kasus ini bermula ketika Xhaka masih memperkuat Arsenal pada 2022. Pada 21 September tahun itu, ia mengunggah pernyataan di media sosial yang mengaku memiliki “ketidakpercayaan” terhadap vaksin Covid-19. Dalam pernyataan yang sama, ia menyebut dirinya telah “dipengaruhi oleh kekhawatiran dan ketidakpastian” saat mengambil sikap tersebut.
Setelah pernyataan itu beredar, Xhaka memutuskan menarik diri dari pemusatan latihan tim nasional Swiss. Saat itu Swiss dijadwalkan menghadapi Skotlandia, Makedonia Utara, dan Slovenia dalam ajang Nations League pada jeda internasional yang baru saja berakhir. Keputusan mundur tersebut menjadi tanda awal bahwa persoalan ini bukan sekadar polemik di media sosial, melainkan sudah berdampak pada karier internasionalnya.
Sertifikat yang dipersoalkan itu sendiri diperoleh Xhaka pada 2022, ketika dokumen tersebut masih menjadi syarat bagi sebagian perjalanan ke luar negeri. Artinya, pada saat itu sertifikat vaksinasi bukan hanya soal administrasi kesehatan, tetapi juga menentukan apakah seseorang bisa melakukan mobilitas lintas negara atau tidak. Fakta inilah yang kemudian menjadi dasar hukum bagi pengadilan dalam menjatuhkan putusan ringkas kepadanya.
Mengapa Sertifikat Covid-19 Sangat Menentukan di Swiss
Kantor kesehatan publik Swiss memberikan penjelasan terkait konteks aturan yang berlaku saat itu. Menurut otoritas tersebut, sebenarnya tidak pernah ada kewajiban hukum secara umum bagi warga untuk memperoleh atau memegang sertifikat Covid-19. Namun, dokumen itu tetap dibutuhkan untuk mengakses berbagai aktivitas, tempat, dan perjalanan tertentu, sehingga siapa pun yang tidak memilikinya akan mengalami pembatasan partisipasi.
Kebijakan tersebut berlaku di Swiss hingga musim semi 2022. Setelah periode itu berakhir, sertifikat Covid-19 masih terus diterbitkan, terutama untuk membantu masyarakat memenuhi persyaratan masuk ketika bepergian ke luar negeri. Dengan kata lain, meski aturan domestik sudah dilonggarkan, dokumen serupa tetap relevan untuk keperluan lintas batas negara.
Dari sisi hukum, pemalsuan dokumen tetap merupakan pelanggaran serius meskipun aturan yang melatarbelakanginya kemudian dicabut. Hal ini menjelaskan mengapa kasus Xhaka baru diselesaikan belakangan dan mengapa sanksinya berbentuk denda bersyarat, bukan sekadar teguran. Pesan yang ingin disampaikan jelas, yaitu tanggung jawab atas dokumen resmi tidak hilang hanya karena kebijakan berubah.
Dampak bagi Sunderland dan Karier Xhaka
Xhaka diperkirakan akan kembali memperkuat Sunderland saat mereka menjamu Brighton pada Sabtu pukul 15.00 waktu Inggris. Artinya, perkara hukum ini sejauh ini tidak mengganggu kesiapan bermainnya bersama klub. Dukungan dari tim pelatih menunjukkan bahwa fokus utama saat ini tetap pada pertandingan dan hasil di lapangan.
Pelatih Sunderland, Regis le Bris, memilih bersikap hati-hati ketika ditanya soal persoalan tersebut. Ia menegaskan tidak akan berkomentar mengenai topik-topik di luar sepak bola. Namun, ia memberikan penilaian positif atas kondisi pemainnya selama jeda internasional.
Respons Pelatih Sunderland
“Tidak ada komentar soal topik eksternal, tetapi dari apa yang saya lihat selama jeda internasional, dia berlatih dengan sangat baik. Itu positif. Dia berada di tempat yang baik secara sepak bola, dan bagi saya itu yang paling penting,” ujar le Bris. Pernyataan itu menegaskan bahwa manajemen klub ingin menjaga agar isu ini tidak mengganggu suasana tim.
Bentuk denda bersyarat juga membuat dampaknya terhadap karier Xhaka relatif terbatas dalam jangka pendek. Selama dua tahun ke depan ia tidak melakukan pelanggaran lagi, kewajiban denda tersebut tidak perlu ditunaikan. Meski demikian, statusnya sebagai figur publik membuat kasus ini tetap menempel pada reputasinya dan bisa kembali disorot setiap kali ia tampil bersama klub maupun negaranya.
Konteks Lebih Luas: Atlet dan Aturan Vaksinasi
Persoalan yang dihadapi Xhaka bukanlah hal yang berdiri sendiri. Selama pandemi, aturan vaksinasi dan sertifikat Covid-19 menjadi salah satu isu paling diperdebatkan di dunia olahraga, karena kebijakan itu menentukan siapa yang bisa bertanding, bepergian, atau mengikuti kompetisi tertentu. Ketika aturan mulai dicabut secara bertahap, sejumlah perkara hukum yang berkaitan dengannya baru diselesaikan setelahnya.
Kasus ini juga memperlihatkan bahwa keputusan pribadi seorang atlet dapat berbenturan dengan kewajiban administratif yang berlaku saat itu. Ada perbedaan penting antara menolak vaksin, yang sepenuhnya menjadi pilihan individu, dengan memalsukan dokumen, yang masuk ranah pelanggaran hukum. Garis inilah yang menjadi dasar mengapa pengadilan tetap menjatuhkan sanksi kepada Xhaka.
Ke depan, publik tampaknya akan terus memantau bagaimana Xhaka menjalani sisa musim bersama Sunderland sekaligus perannya di tim nasional Swiss. Ia pernah membawa Swiss tampil di Piala Dunia tahun ini sebelum tersingkir di perempat final oleh Argentina, yang akhirnya menjadi runner-up. Dengan rekam jejak sepanjang itu, babak baru dalam kariernya kini bergantung pada bagaimana ia menjaga performa sekaligus memenuhi syarat hukum yang tengah berjalan.
Secara keseluruhan, kasus Granit Xhaka berakhir dengan denda bersyarat 150.000 franc Swiss, biaya perkara yang sudah dibayar, dan tanggung jawab yang ia akui secara terbuka melalui pernyataan di media sosial. Persoalan sertifikat Covid-19 yang diperolehnya pada 2022 kini telah menemukan titik akhir di ranah hukum, meski gaungnya masih terasa bagi citranya sebagai pemain senior.
Yang tersisa sekarang adalah pertanyaan yang lebih sederhana: apakah ia bisa menutup babak ini dengan tenang dan kembali fokus sepenuhnya pada sepak bola. Pertandingan melawan Brighton menjadi kesempatan pertama untuk menunjukkan bahwa urusan di luar lapangan tidak mengubah kontribusinya bagi Sunderland maupun Swiss.
