Skuad Irlandia vs Israel Bahas Sikap Usai Lawan Kosovo

Skuad Republik Irlandia memilih menunda pembahasan mengenai laga kontroversial Irlandia vs Israel sampai pertandingan melawan Kosovo selesai. Bek Dara O’Shea menyatakan para pemain akan duduk bersama pada Jumat untuk menentukan sikap mereka terhadap pertandingan yang dijadwalkan bergulir Minggu mendatang. Menurutnya, pertemuan itu penting karena setiap pandangan di dalam tim harus dihormati dan didengar dengan sungguh-sungguh.

Keputusan untuk membahas laga Irlandia vs Israel secara terbuka muncul di tengah meningkatnya desakan boikot di Irlandia. Sebuah aksi protes digelar di hotel tempat tim menginap di Dublin pada Senin, menyusul surat terbuka dari Irish Sport for Palestine Group. Surat tersebut ditandatangani lebih dari 160 atlet Irlandia dan mendesak Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) mundur dari dua pertandingan itu karena situasi di Gaza.

Menunggu Laga Kosovo Sebelum Membahas Israel

Republik Irlandia dijadwalkan menghadapi Kosovo di Pristina pada Kamis pukul 19.45 waktu setempat. Setelah laga itu rampung, tim baru bertolak ke Debrecen, Hungaria, untuk pertandingan pertama dari dua laga melawan Israel pada jendela internasional kali ini. O’Shea menegaskan fokus skuad saat ini sepenuhnya tertuju pada pertandingan melawan Kosovo yang dinilainya butuh persiapan serius.

Menurut O’Shea, para pemain baru akan membicarakan laga Israel pada Jumat, sehari setelah pertandingan di Pristina. Ia menilai pembahasan tersebut layak mendapat waktu khusus dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Ia juga menekankan bahwa keputusan apa pun yang diambil nantinya akan menjadi keputusan bersama seluruh pemain.

“Kita harus menghormati pendapat dan pandangan satu sama lain dan benar-benar duduk untuk meluangkan waktu, karena hal ini layak dibicarakan,” ujar O’Shea. “Ini hal utama dan tidak bisa diabaikan. Keputusan apa pun yang kami ambil sebagai pemain diambil sebagai satu kesatuan dan pandangan semua orang juga dihormati.”

O’Shea sendiri akan mengenakan ban kapten Republik Irlandia karena Nathan Collins masih cedera. Ia menambahkan bahwa para pemain sudah menyadari adanya “kebisingan” seputar jendela pertandingan ini, tetapi berusaha menghindarinya sebisa mungkin.

Latar Belakang Seruan Boikot

Desakan agar Irlandia mundur dari laga melawan Israel bukan hal baru. Surat terbuka yang dilayangkan Irish Sport for Palestine Group menjadi pemicu utama gelombang protes, dengan lebih dari 160 nama pesohor olahraga Irlandia ikut menandatangani. Mereka menilai kelanjutan pertandingan tidak sejalan dengan situasi kemanusiaan yang terjadi di Gaza.

Puncaknya, aksi protes digelar di hotel tempat skuad Republik Irlandia menginap di Dublin pada Senin. Aksi itu menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari luar lapangan, tetapi juga menyentuh langsung lingkungan tempat para pemain beraktivitas. Situasi ini membuat jendela pertandingan kali ini berbeda dari biasanya, karena diwarnai sorotan politik dan sosial yang kuat.

Sejumlah perkembangan lain turut mewarnai persiapan tim. FAI mengungkapkan bahwa Uefa menolak permintaan untuk memisahkan Republik Irlandia dan Israel dalam jadwal pertandingan. Di sisi lain, pernyataan Asosiasi Sepak Bola Israel mengenai pelatih kepala Republik Irlandia, Heimir Hallgrimsson, ikut menjadi sorotan publik.

Tekanan dan Suasana di Dalam Skuad

O’Shea mengakui bahwa situasi ini terasa sulit dan tidak biasa bagi para pemain. Meski demikian, ia menilai skuad memiliki cara untuk tetap fokus, terutama karena atmosfer tim nasional membuat para pemain langsung masuk ke dalam “gelembung” yang terpisah dari hiruk-pikuk di luar. Hal itu membantu mereka menjaga konsentrasi di tengah tekanan yang terus mengalir.

“Kabar baiknya sebagai pemain adalah ketika kita masuk ke skuad, kita langsung berada dalam gelembung internasional,” kata bek Ipswich itu. “Jadi kami tahu ada kebisingan seputar pertandingan ini, tetapi saya rasa kami semua berusaha sebisa mungkin menjauh dari media sosial dan tetap bersama.”

Republik Irlandia akan memainkan laga “kandang” melawan Israel di kota Backa Topola, Serbia, pada 4 Oktober. Dua pertemuan itu membuat jendela internasional kali ini menjadi salah satu yang paling banyak disorot dalam beberapa tahun terakhir. O’Shea menegaskan bahwa menghadapi Kosovo tetap menjadi prioritas utama saat ini.

“Kosovo tim yang bagus dan kami sudah bersiap untuk itu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tim datang pada Minggu dan langsung memusatkan perhatian pada persiapan pertandingan tersebut.

Saat ditanya soal formalitas sebelum pertandingan, O’Shea menyatakan bahwa skuad belum memutuskan apa pun. “Kami sudah bicara di awal pekan bahwa kami akan berkumpul pada Jumat dan membahasnya sebagai kelompok,” ujarnya. Ia menilai tim tidak akan bekerja dengan benar jika tidak mencurahkan fokus penuh pada laga melawan Kosovo lebih dulu.

Ketika ditanya apakah opsi boikot akan dibahas pada Jumat, O’Shea menegaskan bahwa keputusan itu berada di luar kendali para pemain. Menurutnya, keputusan sudah dibuat oleh FAI, Uefa, dan pemerintah. “Kami pemain Irlandia dan ketika dipanggil kami datang mewakili negara dan itu juga penting untuk diketahui,” ujarnya. Ia memastikan bahwa saat berkumpul nanti, semua yang mereka rasakan akan dibicarakan secara terbuka.

Kontroversi Pernyataan Hallgrimsson

Sebelumnya, otoritas sepak bola Israel menuduh pelatih kepala Republik Irlandia, Heimir Hallgrimsson, melakukan “kebodohan, kemunafikan, dan kebodohan besar” terkait komentarnya soal menghadapi Israel. Pernyataan itu memicu polemik di tengah persiapan tim menjelang laga melawan Kosovo. Isu tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan publik antara kedua federasi.

Sebelum tuduhan itu muncul, Hallgrimsson pernah menyatakan, “Kami tidak bermain dengan genosida, kami bermain melawan genosida. Kami bermain melawan Israel, kami tidak bermain dengan Israel.” FAI memilih tidak merespons secara terbuka, tetapi Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, menilai komentar Asosiasi Sepak Bola Israel “tidak dapat diterima” dan “harus ditarik”.

Menanggapi polemik tersebut pada Rabu, Hallgrimsson menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang ia terima. Ia juga mengakui bahwa pernyataannya menciptakan sorotan yang sebenarnya tidak ia inginkan. “Dari sudut pandang kepemimpinan, mencuri perhatian seperti ini bukan tindakan yang bijak dari saya,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa dirinya dan para pemain perlu tetap fokus pada pertandingan.

Konteks Lebih Luas dan Tren Boikot

Ketegangan seputar laga ini bukan yang pertama dalam olahraga Irlandia. Pada Februari 2024, tim basket putri Irlandia menolak berjabat tangan dengan Israel dan memilih berbaris untuk lagu kebangsaan di samping bangku cadangan tim lawan, bukan di tengah lapangan. Peristiwa itu menjadi preseden yang membuat sorotan terhadap pertandingan kali ini semakin besar.

Latar belakang konflik turut menjelaskan mengapa desakan boikot menguat. Kelompok bersenjata Palestina, Hamas, menyerang Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer besar-besaran di Gaza yang menurut kementerian kesehatan yang dikelola Hamas telah menewaskan lebih dari 73.000 orang, dengan angka yang dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Israel berulang kali membantah telah melakukan genosida, kejahatan perang, maupun kejahatan terhadap kemanusiaan. Israel menyatakan bahwa operasi militernya di Gaza dijalankan untuk membela diri dan sesuai dengan hukum internasional. Perbedaan narasi inilah yang membuat posisi para atlet, termasuk skuad Republik Irlandia, berada di tengah tekanan dari berbagai arah.

Penutup

Skuad Republik Irlandia memutuskan untuk tidak terburu-buru menyikapi laga melawan Israel. Pembahasan akan dilakukan usai pertandingan melawan Kosovo pada Kamis, dengan O’Shea menegaskan bahwa setiap pandangan pemain akan dihormati. Keputusan akhir soal boikot sendiri tetap berada di tangan FAI, Uefa, dan pemerintah, bukan para pemain.

Yang jelas, jendela internasional kali ini berjalan jauh dari suasana sepak bola biasa. Tekanan publik, polemik pernyataan pelatih, hingga sejarah aksi serupa di cabang olahraga lain membuat setiap langkah skuad Republik Irlandia terus menjadi perhatian. Bagaimana mereka menyeimbangkan fokus di lapangan dan sikap di luar lapangan akan menjadi ujian tersendiri.