Pierre Sage Terancam di Crystal Palace Usai Hasil Buruk

Pierre Sage menghadapi tekanan berat untuk mempertahankan posisinya sebagai manajer Crystal Palace setelah rangkaian hasil buruk, terutama kekalahan 5-0 dari Brighton pada Minggu lalu. Kekalahan itu membuat pekan ini menjadi periode krusial bagi masa depan pria berusia 47 tahun tersebut. Manajemen klub disebut mulai mencermati performa tim secara lebih serius.

Tekanan ini muncul karena Sage baru meraih dua kemenangan dari tujuh laga pertamanya di Premier League, sementara Crystal Palace telah kebobolan 17 gol, terbanyak di liga. Meski demikian, sejumlah pihak di balik layar Selhurst Park memahami bahwa pelatih asal Prancis itu mewarisi situasi yang tidak mudah. Cedera dan absennya Jean-Philippe Mateta serta Ismaila Sarr—terkait kondisi kebugaran dan keinginan kedua pemain meninggalkan klub—turut mempersulit awal masa kepemimpinannya.

Tekanan terhadap Pierre Sage Memuncak

Posisi Pierre Sage mulai menjadi sorotan setelah Crystal Palace menelan kekalahan telak dari Brighton. Dari tujuh pertandingan Premier League yang sudah dijalani, tim hanya mampu mencatat dua kemenangan, sementara lini pertahanan menjadi titik paling rapuh dengan 17 gol kebobolan. Catatan itu menempatkan Palace sebagai tim dengan kebobolan terbanyak di liga sejauh ini.

Meskipun demikian, tidak semua pihak menilai buruknya hasil semata-mata disebabkan oleh Sage. Di lingkungan internal Selhurst Park, ada simpati terhadap situasi yang dihadapinya karena cedera dan absennya sejumlah pemain penting. Absennya Mateta dan Sarr disebut tidak membantu, terutama karena berkaitan dengan kondisi kebugaran serta keinginan mereka untuk meninggalkan klub.

Pekan ini disebut menentukan. Dua laga penting menanti, yaitu lawatan ke Besiktas di Europa League dan pertandingan kandang melawan Newcastle di Premier League. Hasil buruk tambahan bisa memaksa chairman Steve Parish mengambil keputusan, meskipun ia dikenal tidak bertindak berdasarkan dorongan sesaat.

Latar Belakang Sulitnya Posisi Sage

Sage mengambil alih kursi manajer setelah Oliver Glasner pergi, dan sejak awal tugas itu memang tidak mudah. Glasner meninggalkan warisan besar setelah membawa Palace meraih FA Cup 2025 dan trofi Europa Conference League pada musim berikutnya. Bayang-bayang kesuksesan itu membuat setiap hasil buruk di awal pemerintahan Sage mudah menjadi bahan evaluasi.

Faktor lain adalah perubahan besar dalam skuad. Sejak musim panas 2024, Crystal Palace kehilangan Eberechi Eze, Michael Olise, Maxence Lacroix, Daniel Munoz, dan Marc Guehi. Kepergian sporting director Dougie Freedman pada 2025 juga dirasakan, bahkan posisi penggantinya, Matt Hobbs, kini ikut menjadi sorotan.

Klub juga menghadapi kendala finansial. Palace disebut mengalami kesulitan mematuhi aturan keuangan UEFA, sehingga ruang gerak mereka di bursa transfer terbatas. Salah satu langkah yang diambil adalah menjual Munoz ke Nottingham Forest senilai £22 juta, dan kondisi ini menambah rumit pekerjaan Sage di tengah ekspektasi yang tinggi.

Masalah Pertahanan dan Dampaknya

Kebobolan 17 gol dalam tujuh laga Premier League menunjukkan masalah yang serius. Rata-rata hampir 2,5 gol masuk ke gawang Palace per pertandingan, jauh dari identitas tim yang dalam beberapa tahun terakhir dibangun di atas kestabilan pertahanan. Glasner dan Roy Hodgson sebelumnya dikenal mampu menyusun tim yang terorganisir dengan fondasi kokoh bagi para pemain serang.

Jika tren ini berlanjut, Palace diproyeksikan kebobolan 92 gol sepanjang musim. Angka itu akan menjadi catatan yang sangat buruk, terlebih karena tidak ada klub yang kebobolan lebih banyak sejak Sheffield United menelan 104 gol saat finis di dasar tabel pada 2024. Proyeksi tersebut menjelaskan mengapa manajemen mulai memberi perhatian besar pada masalah defensif.

Faktor personel memang berperan. Kehilangan Guehi, Lacroix, dan Munoz dalam enam bulan merupakan pukulan besar, dan dari tiga bek tengah yang tampil melawan Brighton, Jaydee Canvot baru berusia 20 tahun sedangkan Honest Ahanor 18 tahun. Namun, ada pandangan dari dalam klub bahwa sistem dan pendekatan Sage juga menjadi penyebab utama rapuhnya pertahanan.

Rekrutmen musim panas ikut menjadi sorotan sebagian pendukung. Takehiro Tomiyasu, Ben Chilwell, dan Oscar Mingueza datang dengan status bebas transfer, sementara Axel Disasi dan Ahanor dipinjam. Kendala aturan keuangan UEFA dapat menjadi alasan, tetapi hal itu tidak membuat posisi Sage menjadi lebih aman.

Dua Laga Penentu dan Pasar Manajer

Dengan laga melawan Besiktas dan Newcastle, Sage memiliki peluang untuk mengubah suasana. Dua hasil positif dapat menjadi titik balik dan memberinya ruang untuk membangun performa yang lebih konsisten. Sebaliknya, dua kekalahan bisa membuat Palace merasa batas kesabaran sudah tercapai.

Di sisi lain, klub sadar bahwa mencari pengganti tidak selalu mudah. Setelah kepergian Glasner, Palace gagal mendatangkan target utama Andoni Iraola, sehingga mereka memahami betapa sulitnya pasar manajer. Sejumlah figur dekat klub bahkan menilai tulisan sudah di dinding, tetapi keputusan kemungkinan diambil setelah pengganti yang tepat tersedia.

Steve Parish punya rekam jejak menahan diri. Ia pernah menahan godaan untuk bertindak ketika Glasner secara terbuka mengkritik dewan klub karena dianggap “meninggalkan” tim setelah keputusan menjual Marc Guehi ke Manchester City pada Januari. Glasner kemudian menyelesaikan kontraknya dan menambah trofi, menunjukkan bahwa kesabaran bisa menghasilkan hasil.

Posisi Pierre Sage di Crystal Palace belum sepenuhnya hilang, tetapi tekanan jelas semakin besar. Hasil buruk, masalah pertahanan, perubahan skuad, dan kendala finansial menjadi faktor yang saling berkaitan, sementara manajemen masih mempertimbangkan langkah terbaik. Dua laga berikutnya akan sangat menentukan arah keputusan klub.

Jika Sage mampu meraih hasil positif melawan Besiktas dan Newcastle, ia masih berpeluang memperbaiki situasi dan membangun kepercayaan. Namun, jika kekalahan kembali terjadi, Crystal Palace mungkin merasa sudah cukup dan mulai mencari arah baru. Apa pun hasilnya, masa depan Sage di Selhurst Park kini berada di ujung tanduk.