Pemilik London City Lionesses, Michele Kang, menyatakan bahwa pusat latihan London City Lionesses yang sedang dibangun akan menjadi standar baru bagi sepak bola perempuan. Ia bahkan menyebut fasilitas tersebut berpotensi melampaui sarana latihan yang dipakai mayoritas klub pria di Premier League. Klaim itu ia sampaikan langsung dalam wawancara bersama BBC Sport.
Proyek ini merupakan bagian dari gelombang investasi besar yang dilakukan Kang terhadap klub Women’s Super League tersebut. Sepanjang musim panas, ia mengucurkan dana signifikan untuk memperkuat skuad, termasuk mendatangkan Alexia Putellas, pemain yang sudah dua kali meraih Ballon d’Or. Kang memperkirakan pusat latihan yang dirancang khusus untuk atlet perempuan itu akan mulai beroperasi dalam waktu kurang dari satu tahun.
Fasilitas Khusus Atlet Perempuan yang Diklaim Lebih Baik dari Klub Pria
Menurut Kang, pusat latihan itu dibangun dan dirancang dari nol untuk kebutuhan para atlet perempuan, bukan sekadar menumpang fasilitas yang sudah ada. Ia menyebut proyek tersebut sebagai pusat latihan modern yang didedikasikan sepenuhnya bagi pemain perempuan. Bangunan itu dijadwalkan selesai dan siap digunakan kurang dari setahun sejak pengumuman ini.
Kang mengungkapkan bahwa arsitek yang menggarap proyeknya telah berpengalaman membangun sejumlah pusat latihan klub Premier League. Sang arsitek, kata Kang, menilai bahwa ketika pusat latihan London City nanti beroperasi, kualitasnya akan berada di atas sebagian besar pusat latihan tim pria di Premier League. Penilaian itu menjadi dasar keyakinan Kang bahwa klubnya tidak sedang membangun fasilitas kelas dua.
Bagi Kang, kualitas infrastruktur bukan perkara gengsi semata, melainkan bagian dari upaya yang lebih luas agar atlet perempuan tidak lagi diperlakukan berbeda dari atlet laki-laki. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang bisa menerima gagasan bahwa anak perempuan, cucu perempuan, atau saudara perempuan diperlakukan sebagai warga kelas dua. Dalam cabang olahraga yang sama, ia menilai anak laki-laki diperlakukan seolah bermain adalah hak mereka sejak lahir.
Kang juga menyoroti kebiasaan yang menurutnya sudah terlalu lama dianggap wajar, yakni perempuan diperlakukan seperti versi kecil dari laki-laki. Ia menegaskan bahwa pemain perempuan perlu dirawat dengan lebih baik agar bisa berlatih, tampil, dan berkembang sesuai kebutuhan tubuh mereka sendiri. Ia memberi contoh sederhana: orang tua mengantar anak laki-lakinya ke pusat latihan canggih, sementara anak perempuannya harus diantar ke tempat lain jika kebetulan ada fasilitas di dekat rumah.
Latar Belakang: Mengapa Kang Memilih Klub Independen
Ketertarikan Kang pada London City Lionesses berkaitan erat dengan pendiriannya soal klub perempuan yang berdiri sendiri. Ia dikenal sebagai pendukung kuat model klub independen, yakni tim perempuan yang tidak berafiliasi dengan klub pria. Salah satu alasan ia tertarik pada London City Lionesses adalah karena klub ini berjalan sebagai tim yang mandiri.
Kang menceritakan bahwa pengalaman pertamanya di sepak bola perempuan adalah Washington Spirit di Amerika Serikat. Di sana, sekitar dua pertiga tim perempuan berdiri independen dan tidak terafiliasi dengan tim pria. Kondisi itu, menurutnya, jauh lebih normal dibandingkan model yang mengharuskan tim perempuan menempel pada tim pria.
Ia ingin membuktikan bahwa tidak hanya ada satu model yang harus diikuti tim perempuan. London City dan Durham, jika tidak salah, disebutnya sebagai dua tim yang memang khusus perempuan. Kang ingin membangun tim khusus perempuan untuk menunjukkan apa yang bisa dicapai ketika seluruh perhatian, sumber daya, dan energi dicurahkan sepenuhnya kepada tim tersebut.
Pelajaran dari Ayah dan Masa Kecil di Korea Selatan
Keyakinan Kang soal kesetaraan ia lacak kembali pada didikan ayahnya di Korea Selatan. Ketika ditanya mengapa ia begitu bersemangat memperjuangkan perempuan, ia menyebut sosok ayahnya sebagai sumber pertama. Ayahnya memiliki tiga anak perempuan, dan menurut Kang, sikap sang ayah mungkin lahir dari kebutuhan karena ia tidak punya anak laki-laki.
Kang tumbuh di Korea Selatan pada masa ketika masyarakat masih sangat tradisional dan perempuan memiliki peran yang sudah ditentukan. Di tengah lingkungan seperti itu, ayahnya berpesan bahwa di zaman sekarang tidak penting apakah seseorang perempuan atau laki-laki. Apa pun yang ingin dicapai, ia harus memberikan 100 persen usahanya, dan jika gagal, hanya diri sendiri yang bisa disalahkan.
Pelajaran itu, kata Kang, terus melekat sepanjang kariernya hingga ia merasa berhasil meraih apa yang ia sebut sebagai impian Amerika. Ia memandang kesuksesannya sebagai cara untuk memberi kembali kepada generasi berikutnya. Ia tidak ingin banyak anak perempuan tumbuh besar dan mengalami hal-hal yang pernah ia alami sendiri.
Ia berharap anak-anak perempuan bisa fokus pada apa yang perlu dilakukan untuk menjadi pesepak bola terbaik. Mereka, menurut Kang, tidak seharusnya dibebani persoalan seperti harus berganti pakaian di tengah taman umum atau berlatih dengan peralatan yang rusak.
Riset Kesehatan Atlet Perempuan yang Selama Ini Diabaikan
Pusat latihan tersebut juga diharapkan menjadi tempat riset tentang kesehatan atlet perempuan, bidang yang menurut Kang telah lama terabaikan. Ia menilai dunia telah melewatkan puluhan tahun untuk memahami tubuh atlet perempuan secara serius. Salah satu indikatornya adalah tingginya angka cedera di kalangan pemain perempuan.
Kang menyoroti cedera ligamen lutut atau ACL yang jauh lebih sering dialami pemain perempuan. Menurutnya, pemain perempuan mengalami cedera ACL dua hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan pemain laki-laki. Perbedaan itu, katanya, belum sepenuhnya dipahami karena dasar ilmiahnya masih sangat terbatas.
Ia menyebut sekitar 94 persen dari seluruh riset ilmiah dan medis masih dikhususkan untuk laki-laki. Akibatnya, pengetahuan tentang tubuh perempuan secara mendasar masih sangat sedikit. Angka dan kesenjangan itulah yang ingin ia jawab melalui fasilitas baru milik London City Lionesses.
Ambisi Lintas Benua dan Pesan untuk WSL
Ambisi Kang tidak berhenti di London. Melalui model kepemilikan multi-klub yang sudah mencakup Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat, ia ingin standar yang dibangun di London City direplikasi di berbagai belahan dunia. Ia menyatakan keinginan membeli tim di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan. Alasannya, ia ingin anak-anak perempuan di negara-negara itu tumbuh dengan keyakinan bahwa fasilitas terbaik, praktik terbaik, dan infrastruktur luar biasa bukan sesuatu yang hanya bisa mereka tonton di televisi karena hanya ada di Inggris, Prancis, atau Amerika.
Ia ingin generasi pesepak bola perempuan berikutnya menikmati kesempatan yang setara dengan yang tersedia bagi anak laki-laki, di mana pun mereka tumbuh besar. Menurut Kang, jarak antara perjalanan anak perempuan dan anak laki-laki dalam olahraga ini tidak bisa dibenarkan. Ia ingin kesenjangan itu hilang.
Saat diminta menyampaikan pesan bagi klub-klub lain di Women’s Super League, jawaban Kang singkat dan langsung. Satu kata: berinvestasilah.
Dari proyek pusat latihan hingga rencana ekspansi lintas benua, langkah Kang menunjukkan bahwa perubahan besar biasanya dimulai dari keputusan berinvestasi pada hal-hal mendasar yang lama diabaikan. Bagi sepak bola perempuan, taruhannya bukan hanya soal fasilitas yang lebih bagus, melainkan soal kesempatan yang setara sejak awal. Selama kesenjangan itu masih ada, pesan satu kata Kang akan tetap relevan untuk diulang.
