Fleetwood Mengalahkan Arsenal, Kejutan Piala Liga Terbesar?

Fleetwood Town mencatat salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Liga Inggris setelah mengalahkan Arsenal melalui adu penalti 5-3. Laga berakhir 1-1 dalam waktu normal, tetapi ketenangan Fleetwood di titik penalti membuat Arsenal tersingkir dari Carabao Cup. Kemenangan ini langsung memunculkan pertanyaan: di mana posisi Fleetwood mengalahkan Arsenal jika dibandingkan dengan kejutan Piala Liga dan Piala FA paling legendaris?

BBC Sport menyoroti hasil ini sebagai salah satu kejutan terbesar karena Fleetwood berada di League Two, sedangkan Arsenal adalah tim Premier League yang juga disebut sebagai finalis Liga Champions. Jarak 84 peringkat di piramida sepak bola Inggris membuat hasil ini lebih dari sekadar kemenangan biasa bagi klub tuan rumah. Dalam konteks kompetisi cup, laga seperti ini selalu dibicarakan karena status dan kedalaman skuad tidak selalu menjamin hasil.

Kronologi Fleetwood Mengalahkan Arsenal

Fleetwood Town, yang saat itu duduk di peringkat ke-19 League Two, unggul lebih dulu pada menit ke-21 melalui Aaron Loupalo-Bi. Gol tersebut mengubah suasana di Highbury Stadium dan memaksa Arsenal mengejar dari belakang. Arsenal baru bisa menyamakan kedudukan setelah jeda melalui Viktor Gyokeres, tetapi tekanan mereka tidak berubah menjadi kendali penuh.

Masalah Arsenal bertambah pada menit ke-86 ketika Max Dowman mendapat kartu merah setelah melakukan tendangan balasan menyusul duel dengan Harrison Neal. Bermain dengan 10 orang membuat Arsenal kehilangan momentum menjelang adu penalti, sementara Fleetwood tetap bertahan. Di babak tos-tosan, kiper Jay Lynch menjadi penentu dengan menyelamatkan penalti Bruno Guimaraes, lalu Conor Haughey mencetak penalti kemenangan.

Hasil ini membawa Fleetwood ke perempat final EFL Cup dan menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah klub. Bagi Arsenal, tersingkir di markas tim League Two menjadi pukulan karena mereka datang sebagai tim yang jauh lebih diunggulkan. Drama kartu merah dan penyelamatan penalti membuat laga ini mudah diingat sebagai salah satu malam paling mengejutkan di kompetisi cup.

Mengapa Kemenangan Ini Layak Disebut Kejutan Besar

Ada beberapa alasan mengapa Fleetwood mengalahkan Arsenal layak disebut kejutan besar. Selisih 84 peringkat di piramida sepak bola Inggris menjadi ukuran paling jelas: Fleetwood berada di League Two, sementara Arsenal bermain di Premier League dan disebut sebagai finalis Liga Champions. Dalam satu pertandingan cup, jarak itu tidak selalu berarti kemenangan bagi tim besar, tetapi tetap menunjukkan betapa jauh perbedaan level keduanya di atas kertas.

Faktor kedua adalah cara kemenangan itu terjadi. Fleetwood tidak hanya bertahan dan menunggu adu penalti, tetapi lebih dulu unggul melalui Loupalo-Bi dan tetap kompetitif setelah Arsenal menyamakan kedudukan. Kartu merah Dowman lalu membuka peluang tambahan, dan kiper Jay Lynch memastikan peluang itu dipakai dengan menyelamatkan penalti Bruno Guimaraes.

Faktor ketiga adalah status historis bagi Fleetwood. Kemenangan atas Arsenal disebut sebagai yang terbesar dalam sejarah klub dan membawa mereka ke perempat final EFL Cup. Bagi klub kecil, momen seperti ini jarang datang, sehingga dampaknya terasa lebih besar daripada sekadar satu hasil di putaran awal.

Pembanding: Deretan Kejutan Piala Liga dan Piala FA

Pada 2025, Grimsby Town, tim League Two, mengalahkan Manchester United lewat adu penalti 12-11 setelah laga berakhir 2-2. Grimsby sempat unggul 2-0 dalam 30 menit melalui Charles Vernam dan Tyrell Warren, sebelum Bryan Mbeumo memperkecil kedudukan pada 15 menit terakhir dan Harry Maguire menyamakan skor di menit ke-89. Adu penalti berjalan sangat panjang: Clarke Oduor dan Matheus Cunha menjadi satu-satunya penendang yang gagal pada 11 penalti pertama, lalu Darragh Burns mencetak angka ke-12 dan Mbeumo menembak penalti keduanya ke mistar. Pada tahun yang sama, Plymouth Argyle juga menyingkirkan Liverpool 1-0 di Piala FA setelah Arne Slot melakukan 10 perubahan menyusul laga semifinal EFL Cup; penalti Plymouth didapat delapan menit setelah jeda karena handball Harvey Elliott, Ryan Hardie mengeksekusi dengan tegas, dan Plymouth yang berada di dasar Championship bertahan lewat penyelamatan penting Conor Hazard.

Pada 2015, Bradford City yang berada 49 peringkat di bawah Chelsea menang 4-2 di Stamford Bridge pada putaran keempat Piala FA. Chelsea memimpin 2-0 melalui Gary Cahill dan Ramires, tetapi Jon Stead memperkecil kedudukan, Filipe Morais menyamakan skor, Andy Halliday membawa Bradford berbalik unggul, dan Mark Yeats menutup kemenangan atas tim asuhan Jose Mourinho. Dua tahun sebelumnya, Oldham Athletic mengalahkan Liverpool 3-2 di Boundary Park meski sedang menghadapi masalah keuangan; Liverpool menurunkan Luis Suarez, Raheem Sterling, dan Daniel Sturridge, tetapi Matt Smith membuka skor lewat sundulan dari umpan Youssouf M’Changama, lalu memanfaatkan kesalahan kiper Brad Jones sebelum Reece Wabara mencetak gol sundulan tiang jauh, sementara gol Joe Allen dan masuknya Steven Gerrard tidak cukup menyelamatkan Liverpool.

Di Piala Liga 2012, Bradford City kembali mengejutkan Arsenal dengan menang adu penalti 3-2 setelah bermain 1-1. Bradford sudah membuat kejutan dengan mengalahkan Wigan lewat penalti di putaran sebelumnya, lalu Garry Thompson membawa mereka unggul lewat tembakan voli. Thomas Vermaelen menyamakan kedudukan dari umpan Santi Cazorla dua menit sebelum waktu normal berakhir, tetapi Vermaelen gagal mencetak penalti penentu dan Bradford lolos. Pada 2010, Liverpool kembali tersingkir secara mengejutkan di Piala Liga, kali ini di Anfield, setelah Northampton Town menang 4-2 lewat adu penalti; Milan Jovanovic membuka skor untuk Liverpool, tetapi Billy McKay menyamakan kedudukan dan Michael Jacobs membuat Northampton memimpin di awal perpanjangan waktu. David Ngog menyamakan lewat sundulan di akhir laga, namun Abdul Osman mengeksekusi penalti penentu dengan tenang untuk membawa Northampton lolos.

Pada 1995, Manchester United juga pernah mengalami kejutan di Piala Liga ketika kalah 0-3 dari York City di Old Trafford pada leg pertama. Sir Alex Ferguson hanya melakukan empat perubahan dari laga liga tiga hari sebelumnya dan tetap memainkan David Beckham, Lee Sharpe, serta Ryan Giggs. Paul Barnes—ayah dari pemain sayap Newcastle, Harvey Barnes—mencetak dua gol termasuk penalti, lalu Tony Barras menambah gol ketiga lewat sundulan; di leg kedua, United menang lewat dua gol Paul Scholes dan satu gol Terry Cooke, tetapi York tetap lolos dengan agregat 4-3 berkat gol Scott Jordan. Pada 1992, Wrexham menyingkirkan Arsenal 2-1 di Piala FA ketika Arsenal berstatus juara First Division musim sebelumnya dan berada di posisi kedua liga utama; Wrexham sebelumnya finis ke-24 di Fourth Division, tetapi Alan Smith membawa Arsenal unggul di babak pertama, sebelum Mickey Thomas mencetak gol dari tendangan bebas 25 yard melewati David Seaman dan Steve Watkin mencetak gol kemenangan dua menit kemudian. Pada 1989, Sutton United yang bukan tim liga mengalahkan Coventry City 2-1 di Piala FA, meski Coventry saat itu bermain di First Division dan merupakan juara Piala FA 1987; Matthew Hanlan mencetak gol kemenangan lewat tembakan voli tepat sebelum menit ke-60, dan hasil ini melengkapi catatan Sutton yang juga dikenal karena perjalanan cup musim 2016-17. Pada 1972, Hereford United mengalahkan Newcastle United 2-1 di putaran ketiga Piala FA meski Newcastle bermain di kompetisi teratas; Hereford memaksa replay setelah bermain 2-2 di St James’ Park, lalu Ronnie Radford mencetak gol 30 yard paling terkenal dalam sejarah Piala FA untuk membawa laga ke perpanjangan waktu, dan pemain pengganti Ricky George mencetak gol kemenangan sehingga Hereford menjadi klub non-liga pertama yang mengalahkan tim First Division sejak 1949.

Dampak dan Makna di Balik Kejutan Cup

Bagi Fleetwood, kemenangan ini langsung berbuah tempat di perempat final EFL Cup dan status sebagai kemenangan terbesar dalam sejarah klub. Dampaknya bukan hanya pada moral pemain dan pendukung, tetapi juga pada cara klub dipandang di kompetisi cup. Tim League Two kini punya bukti bahwa mereka bisa bersaing dengan tim Premier League dalam satu pertandingan, meski langkah berikutnya tetap harus dibuktikan.

Bagi Arsenal, tersingkir di markas tim League Two memunculkan pertanyaan tentang rotasi, ketajaman, dan disiplin. Kartu merah Dowman dan kegagalan di adu penalti menjadi sorotan karena Arsenal sudah punya kualitas untuk menang. Kekalahan ini juga menjadi pengingat bahwa kompetisi cup sering menghukum tim besar yang tidak tampil efisien.

Di konteks lebih luas, hasil seperti ini menjelaskan mengapa Piala Liga dan Piala FA tetap menarik. Klub kecil mendapat panggung untuk menantang tim besar, sementara tim elite harus mengelola skuad dan tekanan di tengah jadwal padat. Kejutan tidak selalu terjadi, tetapi ketika muncul, ia memperkuat daya tarik kompetisi cup sebagai tempat lahirnya cerita.

Posisi Fleetwood di Antara Kejutan Terbesar

BBC Sport menyoroti sederet hasil itu tanpa menetapkan urutan final, dan daftarnya pun tidak lengkap. Karena itu, posisi Fleetwood mengalahkan Arsenal lebih tepat dibaca sebagai diskusi terbuka daripada peringkat angka yang pasti. Jika ukurannya adalah selisih peringkat, status lawan, dan drama pertandingan, hasil ini punya argumen kuat untuk berada di jajaran teratas.

Fleetwood menyingkirkan tim yang berada 84 peringkat di atas mereka, dan melakukannya lewat adu penalti setelah bermain dengan 10 orang. Kombinasi itu membuat kemenangan ini bukan hanya soal skor, tetapi juga soal ketahanan dan keberanian tim kecil. Dalam sejarah cup, hasil semacam ini selalu punya tempat karena mengubah cara orang memandang batas antara tim elite dan tim bawah.

Kemenangan Fleetwood atas Arsenal tidak hanya menghasilkan skor mengejutkan, tetapi juga menambah daftar cerita yang membuat kompetisi cup layak diikuti. Dari Grimsby hingga Hereford, sejarah menunjukkan bahwa tim kecil bisa mengalahkan tim besar ketika momen, disiplin, dan sedikit keberuntungan bertemu. Fleetwood mengalahkan Arsenal kini masuk dalam percakapan itu, dengan drama yang cukup kuat untuk dikenang.

Pertanyaan soal peringkat memang tidak punya jawaban tunggal karena setiap kejutan punya konteksnya sendiri. Namun, jika melihat selisih peringkat, status lawan, dan cara kemenangan terjadi, hasil di Highbury Stadium pantas berada di jajaran kejutan Piala Liga paling bersejarah. Pembaca yang punya daftar favorit sendiri tentu bisa menempatkan laga ini di posisi yang berbeda, dan di situlah daya tarik sepak bola cup.