Debut Duncan Ferguson di Glentoran: Tahan Imbang Coleraine

Debut Duncan Ferguson sebagai manajer Glentoran di Irish Premiership berakhir tanpa kemenangan, tetapi juga tanpa kekalahan. Bertandang ke markas pemuncak klasemen Coleraine, tim asuhan Ferguson menahan imbang tuan rumah 1-1 lewat sundulan Jordan Stewart dua menit sebelum pertandingan usai. Hasil itu bukan tiga poin yang ia impikan untuk mengawali karier kepelatihannya di liga utama Irlandia Utara, tetapi cara timnya bangkit di babak kedua memberi gambaran soal karakter yang ingin ia tanamkan.

Penunjukan Ferguson menjadi salah satu langkah paling menyita perhatian di Irish League dalam beberapa tahun terakhir. Ia tiba di The Oval sebagai pelatih yang punya sesuatu untuk dibuktikan setelah periode kurang mulus di Forest Green Rovers dan Inverness Caledonian Thistle, sementara Glentoran juga tengah berupaya kembali ke level tertinggi seperti tahun-tahun silam. Dua pihak dengan beban pembuktian serupa itulah yang bertemu dalam laga di pesisir utara Irlandia Utara akhir pekan lalu.

Jalannya Laga: Bertahan Dulu, Baru Menyerang

Ferguson memilih fondasi yang solid untuk membendung Coleraine, tim paling produktif di divisi ini sepanjang musim. Pendekatan itu membuat Glentoran lebih banyak bertahan di babak pertama, dan pertahanan mereka akhirnya jebol lewat gol indah Joel Cooper yang melengkungkan bola ke sudut gawang. Ferguson sendiri mengakui anak asuhnya “terlalu pasif dalam bentuk permainan kami” pada fase tersebut, sebuah penilaian jujur atas cara timnya menutup ruang.

Tekanan tuan rumah tidak berhenti sampai di situ. Matthew Shevlin membentur tiang gawang dan kiper Glentoran, Andrew Mills, harus melakukan beberapa penyelamatan penting agar skor tidak berubah lebih jauh sebelum turun minum. Namun setelah jeda, gambaran pertandingan berubah: tim tamu mulai berani keluar menekan dan mengambil risiko yang oleh Ferguson disebut sebagai bentuk “berjudi” demi mengejar hasil.

Modal itu terbayar pada menit-menit akhir. Jordan Stewart, salah satu pemain bertubuh paling mungil di lapangan yang oleh Ferguson dijuluki “si pria kecil”, menyundul bola menjadi gol penyama kedudukan. Penyelesaian itu disebut sebagai jenis gol yang pantas membuat bangga seorang mantan striker Everton dan Newcastle United seperti dirinya.

Kenapa Debut Ferguson Sempat Tertunda

Laga di Coleraine sebenarnya bukan jadwal pertama Ferguson bersama Glentoran. Pertandingan debutnya melawan Ballymena United lebih dulu ditunda pekan sebelumnya karena lapangan The Oval tergenang air. Penundaan itu membuat ia harus menunggu lebih lama, dan begitu jadwal baru datang, lawan yang menanti justru pemuncak klasemen di markasnya sendiri.

Sorotan menjelang laga juga sempat diambil alih sebuah video yang viral: Ferguson berkeliling The Oval untuk mencari kata sandi WiFi, dengan gaya yang menghibur sekaligus penuh umpatan. Di luar keriuhan itu, ia mengakui dirinya gugup sebelum pertandingan pertamanya. Pendekatannya di lapangan ternyata jauh lebih tenang dan tertata dibandingkan kekacauan kecil yang jadi bahan tertawaan warganet tersebut.

Setelah peluit panjang, Ferguson mengaku lega. “Ini sebuah kelegaan. Pada akhirnya Anda berada di bawah tekanan,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa pertandingan pertamanya batal dan tiba-tiba laga berikutnya harus dimainkan di kandang pemimpin klasemen. Ia menilai para pemainnya tampil hebat dan telah membuat klub mereka bangga.

Arti Satu Poin di Markas Pemimpin Klasemen

Konteks klasemen membuat hasil imbang ini bernilai lebih dari sekadar angka. Coleraine adalah pencetak gol terbanyak di divisi ini musim ini, dan kekalahan akan membuat Glentoran tertinggal sekitar 17 poin dari sang pemimpin sebelum Oktober berakhir. Dengan pertimbangan itu, Ferguson sengaja membangun fondasi defensif sebelum mencoba mencuri peluang di babak kedua.

Ferguson juga mengaku sudah punya “gambaran bagus” tentang tim asuhan Ruaidhri Higgins sebelum laga berlangsung. Ia menilai Coleraine memiliki banyak ancaman menyerang, tetapi timnya mampu membatasi ruang gerak mereka di babak pertama selain satu tembakan yang bersarang di sudut atas gawang. Di paruh kedua, ia merasa pasukannya bermain sepadan dan berani meladeni tuan rumah secara langsung.

Karena itulah ia tidak ragu menyebut satu poin sebagai hasil yang bisa diterima. “Saya tahu mereka tim bagus. Kalau sebelum pertandingan Anda menawari saya hasil imbang, saya akan ambil itu, 100 persen,” kata Ferguson. Semangat juang dan ketangguhan yang ia tunjukkan semasa masih aktif sebagai pemain tampaknya memang jadi hal pertama yang ingin ia tanamkan di ruang ganti Glentoran.

Adaptasi Cepat dan Rekam Jejak yang Menjadi Beban

Ferguson terbuka soal minimnya pengetahuannya tentang Irish Premiership sebelum menerima pekerjaan ini. Untuk menutup celah itu, ia bersandar pada figur-figur di The Oval seperti Elliott Morris dan Andy Matheson guna membangun pemahamannya tentang liga. Kerja keras di luar lapangan itu menunjukkan bahwa ia tidak sekadar memanfaatkan nama besarnya sebagai mantan striker Premier League.

Buktinya terlihat dari cara ia menghabiskan waktunya. Pada Sabtu, ketika laga pertamanya ditunda, ia pergi ke Seaview untuk menyaksikan kemenangan Coleraine atas Crusaders. Di tengah pekan, ia juga hadir di pertandingan Glentoran Under-20 melawan Dungannon Swifts. Ia benar-benar membeli peran barunya, bukan sekadar menjalaninya sebagai pekerjaan sambilan.

Rekam jejak kepelatihannya sendiri berisi campuran pengalaman pahit dan momen besar: dua periode sebagai pelatih interim Everton pada 2019 dan 2022, lalu masa sulit di Forest Green Rovers dan Inverness Caledonian Thistle. Bagi Ferguson, sepak bola tetap sepak bola di mana pun ia bekerja, karena bola tetap bundar, gawang tetap di tempat yang sama, dan pertandingan tetap sebelas lawan sebelas. Glentoran, yang juga membawa beban ingin bangkit, tampaknya menjadi tempat yang pas untuk membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan.

Ujian Berikutnya: Carrick Rangers

Setelah melewati ujian pertama di markas pemimpin klasemen, Ferguson langsung mengalihkan perhatian ke laga berikutnya, bertandang ke Carrick Rangers. Ia menegaskan pendekatannya tetap satu pertandingan dalam satu waktu, meski kali ini ia punya cukup waktu untuk mempersiapkan tim. Baginya, jeda itu adalah kesempatan untuk kembali “mengerjakan pekerjaan rumah” soal karakter lawan dan detail taktik.

Menariknya, Ferguson tidak menempatkan taktik sebagai segalanya. Ia menyebut pertandingan bukan hanya soal strategi, melainkan soal api, determinasi, dan kemauan berlari. Para pemainnya, menurut dia, sudah menunjukkan semua itu di babak kedua melawan Coleraine, dan itulah standar yang harus dibawa ke laga-laga selanjutnya.

Penutup

Debut Duncan Ferguson di Irish League memberi campuran antara ketenangan di pinggir lapangan dan keberanian mengambil risiko saat tertinggal. Satu poin di markas Coleraine mungkin bukan hasil yang ia bayangkan, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa Glentoran di bawah asuhannya bukan tim yang mudah menyerah. Gol telat Jordan Stewart menjadi bukti paling nyata dari semangat yang ingin ia bangun.

Yang tersisa sekarang adalah konsistensi. Dengan waktu persiapan lebih panjang menuju laga melawan Carrick Rangers, publik The Oval akan menantikan apakah semangat juang yang terlihat di paruh kedua di Coleraine bisa berubah menjadi kemenangan penuh pertama di era Ferguson.