Ekspansi Stadion Nottingham Forest Disetujui, Lalu Apa?

Ekspansi Stadion Nottingham Forest akhirnya mendapat lampu hijau dari otoritas perencanaan setempat. Persetujuan yang diberikan pekan ini menjadi langkah besar menuju terwujudnya pengembangan City Ground, markas klub yang sudah bertahun-tahun dinanti para pendukung The Reds. Kabar ini sekaligus menutup babak panjang negosiasi antara klub, dewan kota, dan berbagai pemangku kepentingan di kawasan Nottinghamshire.

Bagi banyak suporter, keputusan tersebut terasa seperti akhir dari penantian yang melelahkan. Wacana pembangunan ulang City Ground sudah bergulir setidaknya selama tujuh tahun terakhir, sementara kondisi stadion nyaris tidak berubah sejak pertengahan 1990-an. Karena itu, wajar bila sebagian pendukung masih bertanya-tanya apakah kali ini benar-benar akan berjalan, mengingat sederet presentasi desain dan rapat dewan yang seolah tak ada habisnya.

Seberapa Besar Perluasan yang Disetujui?

Skala proyek yang disetujui kali ini jauh lebih ambisius dibandingkan usulan sebelumnya. Rencananya, pengembangan tersebut akan menampung hingga 21.300 penonton tambahan di kawasan Nottinghamshire yang sudah sangat padat pada hari pertandingan. Angka itu setara dengan kenaikan kapasitas hingga 68 persen, sebuah lonjakan yang signifikan bagi sebuah stadion yang rutin penuh sejak klub kembali ke Premier League.

Perlu dicatat bahwa ini bukan izin pertama yang diperoleh Forest. Sedikit lebih dari setahun lalu, klub sudah mendapat persetujuan untuk menambah kapasitas hingga 35.000 penonton. Namun rencana itu tidak pernah dieksekusi, dan alasannya cukup sederhana: setelah beberapa musim berturut-turut berlaga di kasta tertinggi plus satu kampanye di kompetisi Eropa, ambisi klub kini jauh lebih besar dari yang dibayangkan sebelumnya.

Proposal baru yang diajukan hanya beberapa bulan setelah izin lama disahkan memang tidak membuat seluruh proses harus dimulai dari nol. Meski demikian, skalanya yang jauh lebih besar menuntut pertimbangan tambahan dari otoritas, sehingga izin perencanaan baru pun wajib diurus kembali dari awal.

Mengapa Izin Lama Tidak Pernah Dijalankan?

Untuk memahami duduk perkaranya, ada baiknya melihat ke belakang. Terakhir kali City Ground mengalami pembangunan ulang besar-besaran, Stuart Pearce dan Stan Collymore masih memperkuat skuad The Reds. Sejak itu, satu-satunya perubahan yang terjadi hanyalah penambahan tribun sementara berbahan kontainer pengiriman dan sejumlah perbaikan kosmetik.

Sementara itu, tuntutan untuk memperbesar kapasitas terus meningkat seiring performa tim di lapangan. Stadion yang konsisten penuh setiap pertandingan kandang membuat kebutuhan akan fasilitas yang lebih besar terasa semakin mendesak, baik dari sisi pendapatan klub maupun kenyamanan penonton.

Karena itu, setelah bertahun-tahun menunggu, pertanyaan yang paling sering muncul di kalangan pendukung adalah apakah persetujuan terbaru ini benar-benar akan berujung pada pembangunan fisik, bukan sekadar dokumen perencanaan yang tersimpan rapi.

Dampak bagi Warga dan Arus Lalu Lintas

Menambah puluhan ribu penonton tentu membawa konsekuensi tersendiri bagi warga sekitar. Di kawasan dekat stadion seperti Lady Bay, misalnya, persoalan parkir liar sudah menjadi keluhan lama yang belum tuntas. Anggota dewan Richard Mallender mengakui ia senang melihat stadion berkembang, tetapi mengingatkan bahwa volume kendaraan yang tinggi kerap membuat bus dibatalkan dan warga terjebak di rumah mereka sendiri.

“Kami di sini bukan untuk menghalangi, kami tidak ingin menghentikan sesuatu,” ujarnya. “Yang kami inginkan adalah memastikan tim yang sangat sukses ini memiliki stadion yang mereka butuhkan, tetapi juga tetap berjalan baik bagi orang-orang yang tinggal di sini.”

Ia bersama sejumlah anggota dewan lain mendukung penerapan controlled parking zone (CPZ), yang berpotensi melarang parkir dalam radius 25 menit berjalan kaki dari stadion selama empat jam di kedua sisi waktu kick-off, kecuali bagi warga dan pelaku usaha setempat. Hukum perencanaan memang tidak mewajibkan pemohon menyelesaikan masalah yang sudah ada, kecuali proposal mereka berpotensi memperburuknya. Karena itu, Forest bersedia menyumbang £990.000 untuk pembentukan CPZ tersebut.

Kontribusi itu hanya salah satu bagian dari paket senilai £4,1 juta yang bertujuan mendorong lebih banyak orang datang ke stadion tanpa menggunakan mobil, sebuah strategi yang dikenal sebagai modal shift. Meski sebagian anggota dewan meragukan efektivitasnya, pelaksanaan strategi ini akan diawasi oleh kelompok kerja transportasi baru yang beranggotakan klub, dewan, dan pemangku kepentingan lain.

Trent Bridge Jadi Kendala Utama

Namun, mendorong penonton berjalan kaki memunculkan persoalan lain: bagaimana memindahkan puluhan ribu orang menyeberangi Sungai Trent. Otoritas jalan menolak usulan penutupan permanen dua lajur lalu lintas di Trent Bridge, sehingga pengaturan arus kerumunan menjadi isu yang paling belum terselesaikan hingga kini.

Laporan perencanaan bahkan menyebutkan secara gamblang bahwa kapasitas pejalan kaki di Trent Bridge merupakan hambatan utama bagi pengembangan ini. Alih-alih menggagalkan seluruh permohonan, persoalan tersebut diubah menjadi syarat perencanaan: klub boleh melanjutkan ekspansi asalkan mampu menghadirkan solusi lain. Solusi itu tidak harus berupa jembatan baru untuk pejalan kaki dan pesepeda, meski dewan di kedua sisi sungai sudah menyatakan bahwa opsi itulah yang mereka utamakan.

Muncul kekhawatiran di kalangan pendukung bahwa Forest harus membangun jembatan lebih dulu sebelum menyentuh stadion, yang berarti penambahan waktu bertahun-tahun. Namun skema persyaratannya tidak demikian. Klub tidak boleh memulai pekerjaan pembongkaran sebelum solusi arus kerumunan disepakati, dan tidak akan diizinkan menampung penonton melebihi kapasitas saat ini sampai solusi tersebut benar-benar terwujud. Artinya, pembangunan stadion dan jembatan hipotetis itu bisa berjalan bersamaan.

Ada pula ketentuan tambahan yang memungkinkan penerapan langkah sementara hingga 18 bulan apabila solusi permanen memakan waktu lebih lama daripada proses pembangunan ulang stadion. Klub sendiri belum mengumumkan langkah apa yang akan diambil. Walikota East Midlands, Claire Ward, tampaknya membuka peluang keterlibatan kantornya. “Jika Anda melihat di mana kami telah membuka peluang lain di berbagai tempat melalui investasi, itu tentu masih dalam lingkup yang kami kerjakan, tetapi jelas kami memerlukan studi kelayakan bisnis dan perlu menelaah detailnya,” katanya.

Ketua Nottingham Forest Supporters’ Trust, Asif Naidu, menilai persoalan transportasi tersebut “jelas bukan hal yang mustahil untuk diatasi”. Ia menyatakan pihaknya terbuka untuk bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk klub, anggota, dan kelompok suporter yang lebih luas, guna mencari jalan keluar dari hambatan tersebut.

Boathouse, Status Lahan, dan Urusan yang Belum Tuntas

Arus kerumunan memang menjadi penghalang terbesar sebelum sekop pertama menancap di tanah, tetapi bukan satu-satunya. Rencana ini juga mencakup pembongkaran Britannia Boathouse, markas Nottingham Rowing Club. Forest telah menyetujui penyediaan fasilitas setara di lokasi lain, dan klub dayung itu mendukungnya. Meski demikian, dokumen perencanaan menyebutkan bahwa sejumlah lokasi alternatif sudah dibahas, namun belum ada yang dikonfirmasi.

Yang tak kalah penting, perjanjian hukum yang disusun menyatakan boathouse saat ini tidak boleh dibongkar sebelum penggantinya dibangun, atau sebelum fasilitas sementara ditemukan dan diikuti penggantian permanen dalam tiga tahun. Ketentuan ini memberi jaminan bahwa aktivitas klub dayung tidak serta-merta terhenti oleh proyek stadion.

Selain itu, masih ada persoalan kepemilikan lahan tempat stadion berdiri. Dua tahun lalu, perselisihan publik soal sewa sempat memicu wacana relokasi dari City Ground. Kesepakatan akhirnya tercapai untuk membeli hak milik penuh (freehold) dari dewan kota, dengan syarat klub memperoleh izin ekspansi, yang kini sudah diberikan dua kali. Namun hingga artikel ini ditulis, kesepakatan tersebut dilaporkan belum tuntas dan dewan kota masih memegang kepemilikan lahan. Tidak ada indikasi kesepakatan itu tidak dapat diselesaikan, tetapi statusnya masih masuk daftar hal yang belum pasti.

Kapan Pekerjaan Dimulai?

Itulah pertanyaan senilai £790 juta yang belum terjawab. Dengan sederet urusan di atas yang masih harus diselesaikan, belum ada tanggal resmi yang ditetapkan untuk memulai pengembangan. Karena itu, banyak pendukung masih bersikap hati-hati dan memilih untuk percaya setelah melihat hasilnya langsung.

Meski begitu, ada satu perbedaan penting antara situasi sekarang dan masa-masa sebelumnya: rencana terbaru ini dinilai lebih selaras dengan visi pemilik klub, Evangelos Marinakis, untuk City Ground. Pelatih kepala Oliver Glasner mengaku telah membahas ekspansi stadion dengan Marinakis saat mereka bertemu pekan ini, tepat sebelum laga kandang melawan Coventry.

“Ini kabar bagus untuk klub, kabar bagus untuk kota, kabar bagus untuk para pendukung kami, dan saya rasa semua orang sekarang menantikan kapan pekerjaan akan dimulai,” ujar Glasner.

Kesimpulan

Persetujuan ekspansi Stadion Nottingham Forest menandai kemajuan nyata setelah bertahun-tahun wacana tanpa eksekusi. Penambahan kapasitas hingga 21.300 penonton, paket transportasi senilai £4,1 juta, dan skema pengelolaan arus kerumunan menjadi tiga pilar utama yang menentukan apakah proyek ini benar-benar berjalan.

Namun jalan menuju pembangunan fisik masih berliku: solusi penyeberangan Sungai Trent, kepastian lokasi pengganti Britannia Boathouse, dan tuntasnya pembelian hak milik lahan dari dewan kota harus diselesaikan lebih dulu. Sampai semua itu rampung, para pendukung The Reds tampaknya masih harus bersabar, meski kali ini harapan itu terasa jauh lebih konkret dibandingkan sebelumnya.