James Wade akhirnya mengakhiri penantian selama sepuluh tahun untuk kembali mencicipi gelar European Tour. Pada partai puncak Flanders Darts Trophy di Antwerp, Minggu malam waktu setempat, pemain berusia 43 tahun itu menundukkan Ross Smith dengan skor 8-4. Sepanjang laga final tersebut, Wade mencatatkan rata-rata 95,50 sekaligus melepas lima lemparan 180, sebuah performa yang langsung mengingatkan publik pada masa-masa terbaiknya.
Gelar ini terasa istimewa karena menjadi trofi European Tour pertamanya sejak ia menang di European Darts Matchplay di Hamburg pada 2016. Konteksnya penting untuk dipahami: Wade bukan nama baru di panggung ini, sebab ia turut ambil bagian pada final European Tour pertama yang digelar di Austria pada 2012. Kemenangan di Antwerp juga membuatnya tercatat sebagai pemenang pada event ke-150 European Tour, sebuah penanda betapa panjang dan konsistennya kariernya di level elit dart profesional.
Jalannya Final Flanders Darts Trophy di Antwerp
Menghadapi Ross Smith yang datang dengan status juara bertahan Hungarian Darts Trophy, Wade tampil efisien sejak leg-leg awal. Ia menjaga konsistensi skor tinggi, memanfaatkan setiap peluang checkout yang terbuka, dan tidak memberi ruang bagi lawannya untuk membalikkan keadaan. Skor akhir 8-4 memperlihatkan bahwa Wade mampu mengendalikan tempo pertandingan hampir sepanjang laga, meski Smith sempat memberikan perlawanan di beberapa leg.
Rata-rata 95,50 plus lima lemparan 180 menjadi bukti bahwa kualitas permainan Wade berada di level yang dibutuhkan untuk menembus final turnamen sekelas European Tour. Angka-angka itu penting karena menunjukkan bahwa kemenangannya bukan semata hasil keberuntungan undian atau penampilan buruk lawan. Dengan performa seperti ini, ia membuktikan bahwa dirinya masih kompetitif melawan generasi pemain yang lebih muda.
Atas keberhasilannya, Wade mengantongi hadiah uang sebesar 35.000 poundsterling dari turnamen ini. Nominal tersebut menambah catatan prestasi sekaligus memperkuat posisinya di jajaran pemain papan atas PDC. Bagi seorang pemain yang sudah melewati usia 40 tahun, capaian seperti ini menjadi sinyal bahwa pengalaman dan kemampuan membaca pertandingan masih menjadi senjata yang mematikan.
Perjalanan Wade Sepanjang Turnamen
Jalan Wade menuju trofi tidak bisa dibilang mulus, terutama di fase awal. Pada babak yang ia lalui lebih dulu, ia harus melewati Rob Cross lewat pertarungan ketat yang berakhir 6-5. Hasil itu menunjukkan bahwa sejak awal turnamen Wade sudah dipaksa tampil maksimal dan tidak bisa mengandalkan satu-dua leg keberuntungan.
Setelah itu, performa Wade justru meningkat tajam ketika ia menggulung Danny Noppert tanpa memberi kesempatan satu leg pun, dengan skor telak 6-0 di babak perempat final. Kemenangan bersih semacam itu biasanya berdampak besar pada kepercayaan diri seorang pemain, karena memberi sinyal bahwa puncak permainannya sudah tiba pada momen yang tepat. Dari situ, langkahnya ke semifinal terasa jauh lebih ringan.
Di babak empat besar, Wade kembali menghadapi lawan berat, Damon Heta, dan menang dengan skor 7-4. Kombinasi hasil melawan Cross, Noppert, dan Heta memperlihatkan satu pola: Wade selalu mampu finis lebih baik pada momen-momen krusial. Konsistensi itulah yang pada akhirnya mengantarkannya ke partai final dan menutup turnamen dengan gelar.
Sepuluh Tahun Penantian dan Catatan Event ke-150
Bagi Wade, jeda sepuluh tahun antara gelar Hamburg 2016 dan trofi Antwerp bukan waktu yang singkat. Selama periode itu, lanskap European Tour berubah cukup banyak dengan munculnya sejumlah pemain muda yang mendominasi turnamen-turnamen besar. Karena itu, kemenangan ini bukan sekadar tambahan koleksi trofi, melainkan jawaban atas keraguan soal apakah ia masih bisa bersaing di level tertinggi.
Wade sendiri mengakui bahwa penampilannya memang naik-turun dari pekan ke pekan. “Ada pekan ketika semuanya berjalan baik, ada pekan ketika semuanya buruk. Begitulah saya,” ujarnya usai memastikan gelar. “Kalau semuanya selalu bagus, saya akan menghancurkan mereka semua. Kita tidak selalu bisa memilih bagaimana perasaan kita,” tambahnya, menggambarkan sisi mental yang harus dihadapi pemain dart profesional.
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa konsistensi bukan semata soal teknik melempar, tetapi juga soal mengelola kondisi diri. Wade tidak menyembunyikan bahwa ia kerap kesulitan menemukan ritme terbaiknya. Namun justru di pekan Flanders Darts Trophy, ia berhasil menyatukan pengalaman, ketenangan, dan ketajaman skor pada waktu yang tepat.
Pengakuan Ross Smith Setelah Final
Ross Smith datang ke Antwerp dengan modal kuat karena baru saja memenangi Hungarian Darts Trophy dua pekan sebelumnya. Bahkan pada hari final itu sendiri, ia sudah melewati tiga laga ketat yang harus diselesaikan lewat decider melawan Gian van Veen, Ryan Joyce, dan Gerwyn Price. Rangkaian pertandingan berdurasi panjang itu jelas menguras energi fisik maupun mental sebelum ia melangkah ke partai puncak.
Smith tidak mencari alasan atas kekalahannya dan justru memberi pujian tulus kepada sang lawan. “Hari ini keberuntungan saya sedang berjalan dan para pemain lain membiarkan saya lolos, tapi Wadey tidak pernah membiarkan Anda lolos,” katanya. “Saya mengaguminya. Saya menonton permainannya dan saya hanya bisa mengagumi orang itu,” ujarnya menambahkan.
Pemain berusia 37 tahun itu juga menegaskan bahwa kemenangan Wade sepenuhnya pantas. “James benar-benar layak menang hari ini. Dia itu benar-benar kelas, bukan?” tuturnya. Pernyataan tersebut menempatkan kemenangan Wade bukan sebagai kebetulan semata, melainkan hasil dari kualitas permainan yang diakui langsung oleh rivalnya sendiri.
Hasil Lengkap Flanders Darts Trophy
Rangkaian pertandingan hari Minggu pada Flanders Darts Trophy terbagi ke dalam dua sesi, yaitu sesi sore dan sesi malam. Berikut hasil lengkapnya sesuai urutan babak:
- Final: James Wade 8-4 Ross Smith
- Semifinal: Ross Smith 7-6 Gian van Veen; James Wade 7-4 Damon Heta
- Perempat final: Gian van Veen 6-3 Chris Dobey; Ross Smith 6-5 Ryan Joyce; James Wade 6-0 Danny Noppert; Damon Heta 6-5 Nathan Aspinall
- Babak ketiga (sesi sore): Gian van Veen 6-5 Kevin Doets; Chris Dobey 6-5 Ryan Searle; Ryan Joyce 6-5 Jermaine Wattimena; Ross Smith 6-5 Gerwyn Price; James Wade 6-5 Rob Cross; Danny Noppert 6-4 Wessel Nijman; Damon Heta 6-3 Luke Woodhouse; Nathan Aspinall 6-4 Stephen Bunting
Dari daftar tersebut terlihat bahwa sebagian besar laga di babak ketiga hingga semifinal berlangsung sangat ketat. Banyak pertandingan harus diputuskan pada leg terakhir, yang menandakan bahwa level persaingan di European Tour musim ini cukup merata. Di tengah ketatnya kompetisi itu, Wade menjadi salah satu dari sedikit pemain yang mampu menutup laga dengan selisih skor cukup meyakinkan.
World Grand Prix 2026: Daftar 32 Pemain Dikonfirmasi
Seusai Flanders Darts Trophy, daftar 32 pemain untuk BOYLE Sports World Grand Prix 2026 di Leicester resmi dikonfirmasi. Juara bertahan Luke Littler masuk dalam daftar tersebut dan akan bersaing memperebutkan hadiah utama yang kini naik menjadi 150.000 poundsterling. Turnamen ini dijadwalkan berlangsung 28 September hingga 4 Oktober, dengan seluruh sesi disiarkan langsung di Sky Sports, sementara undiannya dilakukan pada Senin, 14 September.
Sebanyak 16 pemain teratas dari peringkat PDC akan menjadi unggulan dalam undian babak pertama. Nama-nama yang mengisi posisi tersebut adalah Luke Littler (1), Luke Humphries (2), Gian van Veen (3), Gerwyn Price (4), Jonny Clayton (5), James Wade (6), Josh Rock (7), Danny Noppert (8), Michael van Gerwen (9), Gary Anderson (10), Stephen Bunting (11), Wessel Nijman (12), Ross Smith (13), Ryan Searle (14), Chris Dobey (15), dan Nathan Aspinall (16).
Posisi Wade sebagai unggulan keenam memberi gambaran bahwa gelar di Antwerp memperkuat posisinya di jajaran elite jelang turnamen bergengsi berikutnya. Sementara itu, 16 tempat lainnya diisi para pemain yang lolos melalui peringkat ProTour: Luke Woodhouse, Kevin Doets, Jermaine Wattimena, Krzysztof Ratajski, Andrew Gilding, William O’Connor, Damon Heta, Rob Cross, Ryan Joyce, Dirk van Duijvenbode, Niels Zonneveld, Cameron Menzies, Niko Springer, Dave Chisnall, Sebastian Bialecki, dan Joe Cullen.
Agenda European Tour Berikutnya
Setelah Flanders Darts Trophy selesai, European Tour akan kembali bergulir pada Swiss Darts Trophy yang digelar di Basel, Swiss, 9-11 Oktober. Turnamen tersebut menjadi kesempatan berikutnya bagi para pemain untuk menambah poin sekaligus menguji konsistensi penampilan di paruh akhir musim. Bagi Wade, jadwal ini menjadi ujian nyata untuk membuktikan bahwa gelar di Antwerp bukan sekadar keberhasilan sesaat.
Di sisi penyiaran, Sky Sports tetap menjadi rumah bagi ajang dart utama sepanjang sisa tahun ini. Selain World Grand Prix pada 28 September-4 Oktober, ada Grand Slam of Darts pada 14-22 November serta World Darts Championship pada 10 Desember-3 Januari. Seluruh tayangan tersebut dapat ditonton melalui Sky Sports, sementara penonton yang menginginkan akses tanpa kontrak bisa menyaksikannya lewat platform NOW.
Penutup
Kemenangan Wade di Flanders Darts Trophy menegaskan bahwa pengalaman masih menjadi aset berharga di panggung dart modern. Ia melewati tiga lawan berat sebelum menaklukkan Ross Smith di final, dan melakukannya dengan rata-rata 95,50 serta lima lemparan 180. Bagi Wade, trofi ini mengakhiri penantian sepuluh tahun sekaligus menandai pencapaian pribadi pada event ke-150 European Tour.
Perhatian kini beralih ke World Grand Prix 2026 di Leicester, tempat Wade kembali masuk sebagai salah satu unggulan. Dengan modal gelar terbaru ini, pertanyaan yang menarik ditunggu jawabannya adalah apakah ia mampu membawa momentum tersebut ke turnamen-turnamen besar berikutnya. European Tour selanjutnya di Basel pada Oktober juga akan menjadi panggung pembuktian berikutnya bagi pemain berusia 43 tahun itu.
