Jika Anda menonton Piala Dunia, pasti pernah melihat papan besar bertuliskan Aramco sebagai “mitra energi” turnamen. Perusahaan minyak asal Arab Saudi ini ternyata juga merupakan penghasil polusi korporat terbesar di dunia, sementara Arab Saudi selama puluhan tahun menjadi penghalang utama dalam negosiasi perubahan iklim internasional. Sponsor Aramco hanyalah satu sisi dari praktik sportswashing Piala Dunia yang semakin marak dilakukan FIFA, membuat para penggemar sepak bola di seluruh dunia geram.
Hubungan Panjang Sepak Bola dengan Industri Polutan
Hubungan erat antara sepak bola modern dan industri pencemar sebenarnya sudah berlangsung lama dan bisa dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama dimulai ketika sepak bola tumbuh di masyarakat Inggris sebagai alat untuk mengatur dan mendisiplinkan para pekerja, lalu menjadi ekspor budaya dari kapitalisme dan Kekaisaran Inggris. Dalam Undang-Undang Pabrik tahun 1850, para pekerja memenangkan hak untuk libur Sabtu sore mulai pukul 14.00 — itulah mengapa kick-off tradisional dilakukan pukul 15.00.
Industrialisme, militerisme, dan kolonialisme Eropa kemudian mengekspor sepak bola ke seluruh dunia. Industrialisasi di Inggris menciptakan kondisi bagi terbentuknya kompetisi yang membutuhkan keteraturan, disiplin, dan struktur. Sepak bola menyebar dari Inggris dan Skotlandia ke kawasan industri di timur laut Prancis, barat laut Jerman, serta di sekitar pelabuhan-pelabuhan di Prancis, Italia, Portugal, Spanyol, Argentina, Uruguay, dan Brasil.
Periode Pascaperang: Profesionalisasi dan Keterkaitan dengan Industri Mobil
Memasuki periode pascaperang, sepak bola mulai diprofesionalkan dan semakin didominasi oleh klub-klub di kota-kota industri. Klub-klub ini sering kali terkait erat dengan industri otomotif. Contoh paling jelas adalah hubungan Juventus dengan Fiat dan Wolfsburg dengan Volkswagen. Regulasi ekonomi yang mengatur sepak bola pada masa itu membuat sepak bola pria level elite jauh lebih tersebar dibandingkan sekarang.
Di level Eropa, setelah dominasi awal Real Madrid, Milan, Inter, dan Benfica, terjadi periode yang disebut “Eurosclerosis”, yaitu penurunan standar permainan. Final Piala Eropa saat itu sering diikuti oleh klub-klub kecil dari kota kecil dengan daya tarik global rendah, seperti Malmö. Kondisi yang relatif setara ini justru menjadi tantangan bagi klub-klub besar. Mereka mulai mendorong perubahan pada kompetisi dan menginginkan lebih banyak kekuasaan di liga masing-masing, terutama di Inggris, Italia, dan Spanyol.
Era Globalisasi: Masuknya Investasi Bahan Bakar Fosil
Pada awal 1990-an, berdirinya Liga Champions dan Liga Premier Inggris membawa sepak bola semakin mengglobal. Globalisasi ini membuka peluang bagi bentuk-bentuk baru investasi dari kapital fosil, yang cenderung menguntungkan klub-klub besar di kota-kota paling menarik. Tahun 1990-an melahirkan sembilan juara klub Eropa dari sembilan kota berbeda. Namun, hanya tiga klub yang berhasil memenangkan Liga Champions di luar 14 klub elite yang mendorong perluasan kompetisi di akhir 1990-an.
Ketiga klub tersebut — Chelsea, Manchester City, dan Paris Saint-Germain — masuk ke level elite berkat investasi petrodolar. Chelsea dibeli Roman Abramovich, Manchester City oleh Sheikh Mansour dari keluarga kerajaan Uni Emirat Arab, dan PSG oleh Qatar Sports Investments, anak perusahaan pemerintah Qatar. Sementara itu, bagi klub yang gagal bersaing, kebangkrutan menjadi semakin umum. Sekarang, satu-satunya cara bagi sebuah klub untuk memasuki level elite sepak bola pria Eropa adalah melalui investasi dari negara petrostate. Hal ini semakin mengunci intensitas karbon dalam olahraga dan menanamkan bahan bakar fosil sebagai bagian penting dari budaya terbesar di dunia.
Kapital Fosil dan Praktik Sportswashing
Kapital fosil tetap kuat meskipun sebagian besar orang kini paham bahwa bahan bakar fosil mendorong perubahan iklim dan mengancam peradaban. Untuk membenarkan penundaan transisi hijau, perusahaan bahan bakar fosil perlu menjadikan diri mereka sebagai “kejahatan yang diperlukan” — begitu tertanam sehingga kita tidak bisa membayangkan hidup, apalagi hidup yang menyenangkan, tanpa mereka. Di sinilah sportswashing Piala Dunia berperan, dan sepak bola — serta FIFA — memegang peranan yang sangat penting.
Setiap kali petrostate atau raja minyak membeli klub sepak bola, setiap acara atau klub yang disponsori perusahaan fosil, dan setiap logo maskapai penerbangan di jersey pemain favorit kita, dominasi kapital fosil menjadi semakin tertanam. Hal ini membuat kita semakin sulit membayangkan sepak bola tanpa bahan bakar fosil. Saat kita mencintai permainan indah ini, kita perlahan menerima “kejahatan yang diperlukan” dari kapital fosil untuk menjaganya tetap hidup dan berkembang.
Kesimpulan: Jangan Percayai Narasi Aramco
Aramco telah membeli tiket masuk ke Piala Dunia untuk menjual gagasan kepada kita bahwa tidak ada pilihan lain selain terus membakar bahan bakar fosil. Sportswashing Piala Dunia seperti ini berusaha membuat kita percaya bahwa sepak bola modern tidak bisa lepas dari industri polutan. Namun, kita tidak perlu membeli narasi itu. Sepak bola bisa tetap jaya tanpa harus bergantung pada bahan bakar fosil, asalkan kita berani menolak praktik sportswashing yang menyesatkan.
