Aston Villa resmi mengumumkan perekrutan Leon Goretzka dengan status bebas transfer pada bursa musim panas ini. Mantan gelandang Bayern Munich berusia 31 tahun itu menandatangani kontrak setelah delapan musim membela raksasa Bundesliga tersebut. Ia pun menjadi rekrutan anyar yang paling menyita perhatian di lini tengah Villa musim ini.
Kepindahan ini menjadi salah satu langkah besar Villa di bursa musim panas. Setelah ditinggal sejumlah pilar dan kalah telak 4-0 dari Brighton di laga pembuka Premier League, Villa membutuhkan tambahan amunisi di lini tengah. Apalagi Amadou Onana dipastikan absen hingga tahun depan akibat cedera lutut yang dideritanya saat membela Belgia di Piala Dunia.
Rekrutmen Gratis yang Langsung Antusias
Goretzka mengaku proses transfer ini berjalan dengan pertimbangan yang matang. “Saya sempat berlibur panjang, dan ini adalah proses untuk mencari tahu apa yang sebenarnya saya inginkan,” ungkapnya. “Sejak awal, saya memiliki perasaan yang sangat baik, dan saya sangat bahagia berada di sini.”
Dia juga menyebut kesan positif dari percakapan pertamanya dengan pelatih Unai Emery. “Aston Villa adalah klub yang sangat besar,” lanjutnya. “Saya ingin membantu tim mencapai tujuan mereka dan membawa pengalaman yang saya miliki sepanjang karier saya.”
Gelandang berpostur tinggi ini juga tidak sabar menjalani tantangan baru di Premier League. “Saya sangat menantikan bermain di laga-laga besar setiap beberapa hari sekali,” kata Goretzka. “Ini mungkin perbedaan terbesar dibanding Bundesliga, yang hanya punya beberapa pertandingan besar melawan lawan kuat.”
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Bayern Munich?
Selama bertahun-tahun, Goretzka menjadi fondasi lini tengah Bayern. Namun dalam beberapa musim terakhir, klub raksasa Jerman itu tidak lagi merahasiakan niat mereka untuk menjualnya dengan harga yang pantas. Situasi ini membuat masa depannya di Allianz Arena semakin tidak menentu.
Ia sempat menolak pinjaman ke Galatasaray pada 2024. Gaji besarnya di Allianz Arena juga membuat sejumlah klub potensial mundur, karena Goretzka enggan menerima pemotongan upah. Pada akhirnya kontraknya habis di bulan Juli dan ia pun resmi berstatus bebas transfer.
Musim lalu, pelatih Bayern Vincent Kompany lebih sering memainkan Goretzka sebagai pemain pengganti. Hal serupa dilakukan Julian Nagelsmann saat Piala Dunia tahun ini. Goretzka hanya tampil tiga kali bersama timnas Jerman dengan total 96 menit bermain.
Kini muncul pertanyaan besar: akankah Jurgen Klopp, manajer baru timnas Jerman, mempertimbangkan Goretzka lagi? Kepindahan ke Aston Villa tentu bisa membantu gelandang 31 tahun ini merevitalisasi karier internasionalnya. Sebab di Bayern, ia seperti terjebak dalam situasi buntu setelah delapan musim.
Kemunculan Aleksandar Pavlovic, gelandang asal Munich yang merupakan lulusan akademi Bayern, akhirnya menjadi penentu nasib Goretzka. Persaingan di lini tengah semakin ketat dan ruang bermainnya semakin sempit. Pavlovic yang jauh lebih muda dan berkembang pesat membuat posisi Goretzka semakin tergeser.
Leon Goretzka: Bakat Langka yang Sempat Redup
Saat tiba dari Schalke pada 2018, Goretzka dijuluki sebagai gelandang modern yang bisa bermain di hampir semua posisi lini tengah. Peter Neururer, pelatihnya di Bochum, bahkan menyebutnya sebagai “bakat sekali dalam satu abad” saat ia berusia 18 tahun. Julukan itu menggambarkan betapa tingginya ekspektasi terhadap kariernya sejak awal.
Goretzka biasanya beroperasi sebagai gelandang bertahan atau nomor enam, sering berdampingan dengan sahabat dekatnya Joshua Kimmich baik di Bayern maupun timnas Jerman. Ia juga kerap dimainkan sebagai bek tengah darurat dan nomor sepuluh. Fleksibilitas inilah yang membuatnya begitu berharga di era kejayaannya.
Ketika ditempatkan di belakang striker, kemampuan mencetak gol Goretzka sangat menonjol. Pergerakan dan posturnya yang ideal membuatnya kuat dalam duel udara serta konversi umpan silang. Keahlian inilah yang kadang membuat pelatih tetap memilihnya meski persaingan di lini tengah semakin berat.
Contoh nyatanya terjadi pada Maret dan Juni 2025. Goretzka kembali tampil sebagai pemain kunci Jerman di final Nations League dan masuk dalam susunan starter Nagelsmann. Sayangnya, momen-momen seperti ini semakin langka dalam beberapa tahun terakhir.
Cedera menjadi hantu yang terus menghantui Goretzka sejak muda. Ia jarang mengalami cedera parah, tetapi harus berhadapan dengan masalah fisik berulang yang sering datang di waktu yang kurang tepat. Akibatnya, potensi maksimalnya di usia 20-an tidak pernah benar-benar diketahui.
Puncak performanya terjadi pada musim 2020-21, setelah meraih gelar Liga Champions bersama Bayern di masa pandemi. Namun alih-alih menjadi mesin lini tengah Jerman di Euro 2021, ia justru absen pada laga pertama fase grup akibat cedera hamstring. Satu-satunya start terjadi saat melawan Inggris di Wembley pada babak 16 besar.
Pengalaman Berharga atau Usia yang Menjadi Persoalan?
Goretzka berulang kali menegaskan akan memperebutkan tempatnya di Bayern, tetapi pada akhirnya ia harus menerima kenyataan bahwa pihak klub tidak lagi memperhitungkannya. Kini di usia 31 tahun, ia berada di persimpangan karier yang menentukan. Kepindahan ke Villa bisa menjadi babak baru atau justru awal dari kemundurannya.
Di satu sisi, ia memiliki tujuh gelar juara Bundesliga, satu trofi Liga Champions, Piala Dunia Antarklub, serta 73 caps bersama Jerman. Di sisi lain, ia dan timnya sempat mengira akan diminati klub-klub besar Eropa musim panas ini, terutama karena statusnya yang bebas transfer. Bahkan sempat ada pembicaraan konkret dengan AC Milan, tetapi negosiasi tersebut batal di menit-menit akhir.
Aston Villa mungkin bukan destinasi pertama yang diinginkannya. Namun kepindahan ini tetap membuka peluang revitalisasi karier yang sempat mandek di Bayern. Setelah delapan musim, ia tampak butuh lingkungan baru untuk membuktikan dirinya masih layak bermain di level tertinggi.
Yang menarik, kehadiran Goretzka tidak otomatis menjamin tempat utama di skuad Unai Emery. Villa baru saja merekrut gelandang Swiss muda, Johan Manzambi, yang merupakan salah satu pemain muda terbaik Bundesliga musim lalu. Manzambi juga bertipe box-to-box dengan postur tinggi, tetapi memiliki keunggulan atletis yang lebih besar.
Bahkan, ada skenario Manzambi lebih cepat beradaptasi dengan kecepatan Premier League dibanding Goretzka yang kesulitan mengimbangi tempo saat diturunkan Nagelsmann di Piala Dunia. Villa sejatinya membawa pulang pengalaman berharga, tetapi seberapa banyak yang bisa diberikan Goretzka di lapangan masih menjadi tanda tanya besar. Kompetisi internal pun dipastikan bakal sengit.
Villa di Tengah Badai Bursa Transfer
Keputusan mendatangkan Goretzka tidak lepas dari situasi sulit yang dihadapi Villa pada bursa musim panas ini. Sejumlah bintang hengkang: bek Ezri Konsa bergabung dengan Arsenal senilai £51 juta, penyerang Morgan Rogers dilepas ke Chelsea seharga £117 juta. Belum lagi kepergian gelandang kunci Youri Tielemans ke Manchester United pada Juli.
Bek kiri Lucas Digne juga kembali ke Paris St-Germain awal bulan ini. Sementara itu, ada kabar ketertarikan Al-Hilal dari Arab Saudi terhadap striker Inggris Ollie Watkins, yang membuat Unai Emery belum bisa memberikan jaminan soal masa depan pemainnya tersebut. Badai kepergian ini membuat skuad Villa nyaris terkuras di beberapa posisi penting.
Dengan kekalahan telak dari Brighton di laga pembuka, Villa jelas butuh peremajaan sekaligus pengalaman. Goretzka hadir sebagai jawaban jangka pendek untuk menambal lini tengah yang ditinggal banyak pemain. Apakah ia mampu menjadi solusi atau justru menjadi bagian dari masalah baru, akan terlihat dalam beberapa pekan ke depan.
Kepindahan Leon Goretzka ke Aston Villa adalah perpaduan antara kebutuhan dan peluang. Villa mendapatkan pemain dengan piala berlimpah dan pengalaman di level tertinggi, sementara Goretzka mendapat kesempatan membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan di panggung sepak bola Eropa. Akankah ia merebut tempat di lini tengah Emery, atau justru kalah cepat oleh Manzambi? Hanya waktu yang bisa menjawab.
